Tentang Kami

Seiring dengan menguatnya keprihatinan atas tingginya angka laju kerusakan hutan di Indonesia, Tropenbos Indonesia memulai kegiatannya di Kalimantan Timur pada penghujung 1986 dengan nama MoF Tropenbos Kalimantan Programme. Saat itu Tropenbos Indonesia aktif melakukan berbagai penelitian terkait konservasi hutan dan silvikultur.
 
Pada 1993 MoF Tropenbos Kalimantan Programme secara resmi menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Kementerian Kehutanan (sekarang Kementerian Lingkungan dan Kehutanan). MoU ini diperpanjang pada akhir 2007 sekaligus menandai perluasan cakupan kegiatan Tropenbos Indonesia dari hanya Kalimantan ke seluruh kawasan Indonesia, sekaligus mengubah nama MoF Tropenbos Kalimantan Programme menjadi Tropenbos Indonesia Programme (TBI-IP).
 
Selanjutnya TBI-IP memperluas kegiatan diluar silvikultur; tak hanya membangun herbarium di Wana Riset Samboja dan melakukan penelitian tentang satwa liar, kegiatan yang dilaksanakan juga meliputi beragam aspek manajemen hutan. Pada 2004-2008 TBI-IP, CIFOR dan WWF terlibat dalam Asia Forest Partnership Program di Kabupaten Pasir, Kapuas Hulu, dan Malinau. Pada 2008-2016, TBI-IP memberikan perhatian utama pada kegiatan mengarusutamakan Nilai Konservasi Tinggi (HCV) dan melaksanakan sejumlah kegiatan kolaborasi dengan para mitra, mulai dari proses penyusunan Panduan Identifikasi HCV (2008), menyelenggarakan sejumlah pelatihan HCV, dan menyediakan bantuan teknis dalam identifikasi HCV untuk HPH, HTI dan perkebunan kelapa sawit.
 
Sejak 22 Desember 2016 TBI-IP secara resmi telah menjadi lembaga lokal sesuai dengan hukum yang berlaku di Indonesia (Yayasan Tropenbos Indonesia). Dengan tagline “Membuat pengetahuan berkarya bagi hutan dan rakyat” dan mengusung visi “Menjembatani kesenjangan antara pengetahuan dan praktik dalam tata kelola lanskap berhutan yang lebih baik”.
 
Tropenbos Indonesia memulai kegiatannya dalam program Green Livelihoods Alliance (GLA) di Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat sejak awal 2017. Sejauh ini, kerja sama dan kemitraan yang erat telah dijalin dengan para aktor di lanskap termasuk dari kalangan pemerintah, swasta, masyarakat setempat, dan CSO/LSM untuk memfasilitasi dibangunnya koridor ekologis yang akan menghubungkan kawasan hutan gambut Sungai Putri dengan Taman Nasional Gunung Palung dan Hutan Lindung Gunung Tarak.
 

Diantara beragam kegiatan yang telah dilakukan di lanskap saat ini termasuk pemetaan partisipatif bagi beberapa desa, rekonsiliasi batas desa dan kecamatan, kolaborasi dengan perusahaan swasta untuk membangun koridor ekologis yang melibatkan kawasan HCV mereka, mendukung pemerintah dalam penerapan Kawasan Ekosistem Esensial (KEE), memberdayakan masyarakat (termasuk kelompok perempuan dan pemuda) melalui pengembangan mata pencaharian berkelanjutan seperti budidaya jamur dan eko wisata, pembangunan pembibitan dengan melibatkan Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD), dan fasilitasi untuk Forum Sagupa, yang merupakan forum yang mewadahi para pemangku kepentingan yang terkait dengan Taman Nasional Gunung Palung.