Pelatihan Pupuk Organik di Desa Sungai Putri

Pelatihan Pupuk Organik di Desa Sungai Putri

Indonesia - 02 October, 2018

Tropenbos Indonesia (TI) memberikan pelatihan teknis pembuatan pupuk organik dalam “Pelatihan Peningkatan Kapasitas Kelompok Tani Desa Sungai Putri”, yang diselenggarakan oleh Pemerintah Desa Sungai Putri, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang. Kegiatan yang dilaksanakan di Kantor Desa Sungai Putri, 24 September 2018, ini dibiayai dari Dana Desa 2018 dan diikuti oleh 20 peserta dari kelompok tani serta pengelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Dalam sambutannya, Kepala Desa sungai Putri, Aspawi menyatakan, tujuan pelatihan ini adalah untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan petani dalam meningkatkan hasil pertanian melalui pemanfaatan pupuk organik sehingga mampu meningkatkan pendapatan para petani menjadi lebih baik. “Selama ini petani masih menggunakan pupuk kimia dalam budidaya tanaman, selain mahal juga tidak ramah lingungan, sementara limbah tanaman seperti jerami, sekam padi, rumput-rumputan dan kotoran ternak cukup banyak tersedia namun tidak dimanfaatkan. Melalui kegiatan ini kami berharap masyarakat dapat memanfaatkan bahan-bahan atau limbah yang selama ini terbuang percuma untuk menjadi pupuk organik, sehingga petani tidak perlu lagi membeli pupuk kimia,” katanya.
 
Lebih lanjut, Aspawi mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada TI karena telah memilih Desa Sungai Putri sebagai desa dampingan. “Mudah mudahan kerja sama dengan TI tidak hanya berlangsung pada tahun ini saja, namun berlanjut hingga tahun-tahun selanjutnya,” ungkapnya.
 
Gusti Suganda, staf TI yang hadir sebagai pemateri mengatakan, pelatihan ini adalah bentuk dukungan yang diberikan TI sebagai tindak lanjut dari fasilitasi Review RPJMDes (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa) Green di Desa Sungai Putri dengan metode Participatory Action Research (PAR). “Jadi pada saat kami melakukan PAR, pemerintah desa meminta perlunya peningkatan kapasitas bagi kelompok tani terutama dalam pembuatan pupuk organic,” ujarnya.
 
Materi pelatihan yang diberikan diprioritaskan pada penguatan kelembagaan, dan peningkatan kapasitas pembuatan pupuk organik yang membahas hal-hal seperti pentingnya kelembagaan kelompok tani bekerja sama dengan BUMDes, Pembuatan Pupuk Bokasi padat dan cair sebagai usaha rumah tangga berbasis unit usaha BUMDes dengan pemateri, Gusti Suganda, dan pembuatan pengendali gulma (herbisida) dan perbanyakan pengendali gulma dengan pemateri Markolaus Sutopo dari Perkumpulan Mitra Pembangunan (PMP).
 
Agar peserta dapat langsung mengaplikasikan di lapangan, dilakukan praktik pembuatan pupuk organik padat dan cair menggunakan bahan baku jerami padi, arang sekam, limbah kotoran ternak, hijauan/dedaunan, dedak, kemudian ditambahkan decomposer menggunakan EM4 (Effective Microorganisme) dan MOL (Mikro Organisme Lokal). Sedangkan pembuatan herbisida menggunakan bahan baku air kelapa, cuka makan, garam dapur, ragi tape, dan deterjen sebagai perekat tambahan.
 
Peserta terlihat sangat antusias dalam mengikuti praktik. Riko, salah satu peserta yang hadir mengatakan sangat bersyukur bisa ikut pelatihan. “Apa yang dipelajari hari ini menyentuh langsung kebutuhan petani pada umumnya, karena dipraktikkan dengan cara yang mudah serta memiliki manfaat yang tinggi dalam mengurangi biaya produksi pertanian, terutama dalam berbudidaya padi serta kebun campur,” ungkapnya.
 
Pada akhir sesi dilakukan kuis berhadiah, yaitu pembagian suvenir bagi peserta yang berhasil menjawab pertanyaan yang bersumber dari materi pelatihan. Suvenir yang diberikan berupa topi berlogo TI, serta peralatan dan perlengkapan pembuatan pupuk seperti EM4. Kuis berhadiah  difasilitasi oleh staff TI, Winardi dan Yogi.
 
Acara ditutup oleh Sekdes Sungai Putri, Iskandar yang menyampaikan apresiasi pemerintah desa terhadap dukungan masyarakat. Dalam APBDes 2019 menurutnya, akan disampaikan usulan prioritas mendukung perberdayaan masyarakat. “Jumlah pembiayaan untuk kegiatan hijau akan ditambahkan terutama untuk mendukung tidak lanjut pembuatan pupuk organik dan produk-produk hijau berbasis unit usaha BUMDes.” (GSU)